Senin, 17 November 2014

Rasa yang tersampaikan

Ketika aku masih berseragam putih-abu, di mana semua rasa,cerita, persahabatan, dan cinta berada pada titik labil. Ya aku tahu ada sesuatu yang mengganjal pikiran dan hatiku ketika itu. Ketika aku merasa harus ada penjelasan akan hal ini. Aku beranikan untuk menjelaskan, atau lebih tepatnya mengutarakan hal yang mengganjal. Tidak secara langsung, hanya lewat telpon tapi aku yakin ini jalan terbaik ketika itu. Aku menghubungi seseorang, dan syukurnya langsung di angkat oleh orang yang aku tuju. Aku berbasa basi terlebih dahulu, menyanyakan kabar. Ketika aku rasa cukup untuk berbasa basi, aku beranikan mengutarakan sesuatu yang mengganjal hati dan fikiranku ketika itu. Awalnya pancingan, aku katakan bahwa aku sedang menyukai seseorang, orang itu menanggapi santai seperti biasanya aku bercerita, namun ketika aku mengatakan bahwa yang aku suka adalah dirinya,,,orang itu hanya tertawa dan mengatakan bahwa aku hanya bercanda. Aku tegaskan bahwa aku berkata sejujurnya, aku mengutarakan hal ini agar tidak ada yang mengganjal di hati dan fikiranku, aku tidak menginginkan lebih. Setelah itu aku pamit untuk menyudahi telpon dan aku tutup telponnya. Iya malu, tapi aku menghargai kejujuran dan keberanianku agar tidak ada yang berkepanjangan, agar aku tidak menyesal, dan yap LEGA. Setelah itu hubungan kami renggang, amat rengggang namun aku tak masalah karena rasaku telah tersampaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar